Indonesia Casino_Online Baccarat Cheating_Football early_Basic Baccarat Play_Mobile lottery betting

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:Platform perjudian daquan,Kami online judi,Platform olahraga terbesar di dunia

THow to play gamblingeHow to pHow to play gamblinglay gamblHow to play gamblingingmanmu     : “Hei, jadi seHow to play gamblingkolah di mana?”

Kuliah atau kerja? Keduanya oke-oke aja. Dengan bekal materi terfokus dan keahlian khusus kamu merasa lebih siap untuk menghadapi dunia kerja dan menjalani karir. Materi yang kamu dapat pun cukup sebagai bekal untuk melanjutkan ke jenjang kuliah. Jika mau melanjutkan kuliah pada jurusan sebidang, itu poin tambah buat kamu. Kamu gak perlu belajar dari nol lagi.

Ujian praktikmu punya standar yang tinggi, dengan penilai independen dari praktisi industri. Untuk jurusan IT, ujian ini bahkan memakan waktu lebih dari 12 jam bertepekur dengan komputer! Tanpa buku, tanpa catatan, semua harus ada di luar kepala!

(dengan mimik prihatin, kaget dan memandang rendah)

Kamu merasa termakan iklan bahwa SMK siap kerja dan bisa melanjutkan kuliah. Kamu baru menyadari hal itu ketika memilih-milih kampus dan jurusan. Ada bagian yang tersembunyi dari iklan itu: “Terbatas pada kampus dan jurusan tertentu saja ya, anak-anak!” Lucunya, ada kampus negeri yang nggak nerima lulusan SMK. SMK ada di Indonesia, dan merupakan bagian institusional dari Kemendiknas itu sendiri. Tapi, kampus negeri kita tidak mengakuinya. Oke, ini lucu konyol!

Jauh dari orang-orang terdekat dan perlakuan di tempat magang yang nggak membedakan antara kamu dan pegawai lain sedikit-banyak membuatmu merasa tertekan. Ditambah bayang-bayang Laporan Magang dan presentasinya yang menunggu, kamu bisa kelabakan.

Gak perlu nunggu kuliah dulu buat anak SMK untuk ‘merasakan’ skripsi. Ada Tugas Akhir (TA) yang harus diselesaikan. Rasanya pun mirip dengan skripsi. Tujuan dari TA ini adalah agar kamu dapat mengaplikasikan semua materi yang kamu pelajari pada satu bentuk kreasi. Ada juga yang TA-nya merupakan proyek yang harus dikerjakan di industri dengan maksud pembelajaran bisnis. Namun kamu memahaminya sebagai beban yang berat di akhir masa sekolahmu.

Tulisan ini ditulis sendiri oleh Rafendra Aditya Rahman. Kamu bisa menyapanya langsung melali akun twitternya @rafenditya.

Hanya kamu anak SMK yang merasakan solidnya teman sekelas yang tak berubah selama sekolah. Tidak ada perubahan kelas ini karena jurusan sudah dipilih di awal. Selain itu, di kelas XI kamu menjalani praktik industri yang dijadwalkan per kelas. Sehingga sekembalinya dari Magang dan masuk kelas XII teman sekelasmu pun sama.

Kali ini nasibmu sama kayak mitos yang ditimpakan pada jurusan IPS: nakal, sering bolos, suka tawuran. Apalagi pada kelompok jurusan mesin yang siswanya memang mayoritas cowok.

Seragammu yang memakai atribut pangkat di pundak dan tali koor di bahu membuat beberapa temanmu yang sekolah di sekolah lain bilang “Wow!” Nggak jarang cerita cintamu bermula dari ketertarikan dia yang terpukau dengan seragammu. Kamu yang memilih jurusan kesehatan pun seringkali dikira perawat atau bidan ketika sedang di jalan. Bilang ‘amin’, ya! *wink*

Jungkir balik nasibmu selama sekolah di SMK tak serta-merta membuatmu bilang pada adik kelasmu: “Jangan memilih SMK!” Justru pengalamanmu dan semua keistimewaan SMK inilah yang akhirnya mencetakmu menjadi pribadi yang kuat, kreatif, kompetitif dan mandiri.

Temanmu     : “Sayang banget dong prestasimu selama SMP ga bisa lanjut? Hmm sayang ya jadi ga bisa ikut OSN lagi. SMA aja napa sih, kayak kita-kita…”

Tertarik menulis untuk Hipwee? Silakan klik tautan ini!

Temanmu     : (Lihatin seragammu) “Loh kamu SMK?”

Walau kamu anak SMK, kamu masih bisa ‘nyerobot’ lahan anak SMA di Olimpiade Sains Nasional (OSN). Sebaliknya, anak SMA nggak bisa ikut LKS Kejuruan — kompetisi paling bergengsi yang hanya khusus untuk SMK. Ini berarti lahan bersaingmu lebih luas. Kamu punya 2 bidang kompetisi, yaitu pelajaran umum dan bidang jurusanmu sendiri. Selain itu, banyak kompetisi besar yang juga tak membedakan peserta SMA maupun SMK.

Kamu            : “….” (Diam setengah dongkol)

Namun, di balik manisnya masa-masa putih abu-abu itu, ada juga cerita masam yang dialami anak SMA SMK. Emang beda ya? Yup, sejak dari seleksi masuk sampai dengan lulus anak SMK mengalami apa yang nggak dialami anak SMA. Misalnya, memilih jurusan sejak seleksi masuk dan kewajiban menjalani Praktik Industri. Katanya, apa yang mereka alami tak semanis cerita anak SMA lho!

“Kalo kamu masuk SMA, ibuk ndak punya dana buat kamu lanjutin kuliah. SMK aja ya le, biar dapet keahlian buat kerja bantuin ibuk. Kalaupun nanti mau kuliah dan ada dana, ndak dibedakan to ijazahnya?”

Apa yang istimewa? Tidak ada memang. Tapi rasa kebersamaan dalam MOS, Magang, Ujian Praktikum Kejuruan, dan Ujian Nasional bersama dengan orang-orang yang sama membuatmu sangat menghargai pengorbanan.

Sebagai siswa SMK kamu wajib menjalani magang di dunia industri atau usaha yang relevan dengan jurusanmu untuk satu semester. Tak jarang, kamu harus pergi ke luar kota dan ngekost. Otomatis kamu harus jauh dengan keluarga dan pacarmu selama masa magang.

Jika anak SMA menentukan jurusan saat kenaikan kelas XI, anak SMK sudah harus melakukannya di awal proses pendaftaran. Kamu dihadapkan pilihan yang nggak gampang: milih jurusan yang akan menjadi hidupmu 3 tahun kedepan atau 4 tahun untuk program khusus. Di masa ini kamu merasakan hal yang sama kayak milih jurusan kuliah. Menimang antara minat, bakat, dan peluang kerja ketika udah lulus nanti. See, udah mikir karir sejak lulus SMP!

Sebagian jurusan mengharuskan kamu bikin laporan praktikum berlembar-lembar yang harus ditulis tangan. Apalagi pelajaran produktif di bengkel serta gambar teknik yang cukup menyita waktumu. Kamu merasa hidupmu di SMK nggak semanis teman-temanmu yang tertawa bahagia saat keluar gerbang SMA ketika pulang sekolah.

Coba kenang masa apa yang paling mengenangkan dalam hidupmu? Salah satunya tentu putih abu-abu. Ya, masa-masa memakai seragam putih abu-abu memang mempunyai segudang cerita manis. Pacaran sepanjang jam sekolah, kekompakan dengan teman sekelas, atau kesibukan sebagai pengurus OSIS memang tak akan terlupakan.

Perantauanmu ketika magang gak sia-sia. Susahnya menjalani LDR dengan pacar terbayar sudah. Pengalaman kerja selama satu semester di bidang jurusanmu tentu menjadi pertimbangan khusus pihak personalia perusahaan yang kamu lamar.

Memilih sekolah di SMK ternyata memberimu lahan lebih luas untuk memilih jurusan saat kuliah, khususnya SMK Teknologi, Kesehatan dan Pertanian. Karena ketika mendaftar SNMPTN, akan dikelompokkan pada IPC. Hal ini tentu juga menguntungkan bukan?

Di matamu, menjadi anak SMA itu enak. Ujian Nasionalnya cuma dilakukan secara tertulis. Sementara kamu? Garus lulus Ujian Nasional Praktik Kejuruan sebelum mengikuti Ujian Nasional Tertulis.

Temanmu     : “Kok SMK sih?”

Sebagai lulusan SMK sederajat, kamu harus puas dengan tawaran gaji sedikit di bawah UMK. Itupun dengan kerjaan yang susah untuk dibilang ‘enjoy aja’ kayak iklan. Dari sekian lowongan yang ada, hampir semuanya mensyaratkan pendidikan minimal S1. “Namanya juga SMK, Sekolah Memeras Keringat! Bukan SMA, Sekolah Menjadi Artis!”

Sekarang kamu mantap mengatakan tidak pada plesetan-plesetan miring tentang SMK. Dan mulai sekarang, katakan setuju pada SMK: Sekolah Menuju Kesuksesan!