Temuan Baru, Tubuh Platipus Bisa Meny「Indonesia Gaming」ala dalam Gelap

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:Platform perjudian daquan,Kami online judi,Platform olahraga terbesar di dunia

TergerIndonesia GamingAIIndonesia Gamingndonesia GamingIndonesia Gamingk oleh rasa ingin tahu, para peneliti kemudian juga menyinari spesimen platipus yang terdapat di Field Museum of Natural History, Chicago. Mereka menyinari tiga spesimen yang terdiri dari 2 jantan dan 1 betina.

Baca juga: Termasuk Mamalia, Paus Berparuh Bisa Tahan Napas Lebih dari 3 Jam

Ternyata saat terkena sinar UV, tubuh platipus mulai bersinar. Namun fluoresensi terkuat terlihat pada perut hewan.

Namun penelitian berbasis lapangan akan menjadi penting untuk mendokumentasikan bioluminesensi dan fungsi ekologisnya pada hewan liar.

Baik platipus dan oposum aktif saat senja, fajar, dan malam hari. Kemampuan ini juga mungkin ada hubungannya supaya mereka bisa terlihat oleh anggota spesies lain saat gelap.

Seperti dikutip dari IFL Science, Kamis (5/11/2020) saat terkena sinar ultraviolet (UV) bulu coklat platipus berubah menjadi biru kehijauan cerah.

"Ini adalah campuran kebetulan dan keingintahuan yang membuat kami menyinari platipus di Field Museum. Tapi kami juga tertarik untuk melihat seberapa dalam sifat bulu bioluminesensi di pohon mamalia," ungkap Paula Spaeth Anich, penulis utama dari Northland College.

KOMPAS.com - Hewan berparuh bebek, Platipus, menambah daftar panjang keanehannya lagi.

Sementara itu, mamalia lain yang diketahui memiliki kemampuan bioluminesensi adalah oposum.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.

Daftarkan email

Kini peneliti berhasil menemukan, jika mamalia yang bereproduksi dengan bertelur itu ternyata memiliki bulu bioluminesensi, sehingga dapat membuat tubuhnya memancarkan cahaya.

Para peneliti percaya, bahwa kemampuan platipus untuk bioluminesensi bisa jadi merupakan bentuk adaptasi terhadap predator yang sensitif terhadap sinar UV.

Baca juga: Peneliti Temukan Bukti Awal Perilaku Sosial pada Mamalia

Polanya tidak dimorfik secara seksual, artinya baik jantan dan betina bersinar di tempat yang sama dengan intensitas sama.

Temuan yang kemudian dipublikasikan di jurnal Mammalia ini berawal dari kelompok peneliti yang tengah mempelajari lumut di malam hari.