Crown Football Betting Network_Formal betting platform_Indonesia online casino site_Roulette Cracking

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:Platform perjudian daquan,Kami online judi,Platform olahraga terbesar di dunia

GGGGambliGambling Handicapng Handicapambling Handicapambling Handicapak usah rebutan harus nikah pakai adat apa sih sebenarnya.

Kamu orang Jawa yang kuliah di Medan. Teman-temanmu kebanyakan orang Batak. Dengar mereka ngomong kadang bikin kamu deg-degan.

Karena udah kebiasaan ngomong “gue” dan “elo”, bahkan sama saudara kandung sendiri seperti Kakak atau Adik, kamu jadi kelihatan kurang ajar ketika kumpul keluarga.

Please, jangan tanya versi lengkapnya. Kamu gak hapal.

Saudara #2, 20 tahun: ‘Baik Dik, eh salah, Mbak.”

Simbah: “Kowe piye kuliahe? Wis rampung?” (Kamu gimana kuliahnya? Udah selesai?)

Aku Jowo. Iya, gaya bicaraku memang medhok.

Kelamaan tinggal di luar kota bikin logat Jawamu hilang. Bahkan, orang sampai mengira kalau kamu bukan orang Jawa. Hal ini bikin teman-teman dan saudaramu keheranan kalau mereka ketemu sama kamu lagi setelah sekian lama.

Sayur lodeh dan sayur asem adalah makanan-makanan yang sering dikangenin dan gak jarang dijadikan makanan favorit. Karena ini makananan sehari-harinya keluarga Jawa, kamu cuma bisa terheran-heran kalau ada orang yang bilang kangen sama sayur lodeh dan sayur asem.

Bahkan bisa dilabelin kayak kacang yang udah lupa sama kulitnya.

Nah, sekarang Hipwee mau kasih apa aja yang sering banget dialami oleh orang Jawa, terutama orang mudanya, dalam kehidupan keluarga dan sosial, baik ketika berada di Jawa atau diluar Jawa.

Bagi mereka yang masih menjunjung “unggah-ungguh” gak sopan aja kalau kamu manggil kakakmu dengan 2 kata itu, bukan dengan “aku” atau “kamu.”

Dira: “Mon, Mon, Monik.”

Orang Jawa, sering banget  digambarkan sebagai orang yang gak ngerti apa-apa soal kehidupan kota dan hal-hal moderen lainnya.

(Kaget setengah mati. Mending nggak usah bayar hutang deh gak papa daripada kamu jantungan)

Selain itu, kamu juga mulai lupa sama unggah-ungguh yang harus kamu lakukan sebagai orang Jawa. Sampai-sampai Kakek dan Nenekmu memandang kamu dengan sebal pas lagi kumpul keluarga.

Kalau sampai salah dalam penggunaan tata bahasa, siap-siap dianggap anak kurang ajar oleh para sesepuh.

Terlepas dari adat-istiadat yang menurut kamu gak penting dan ribet, kamu tetap harus bangga jadi orang Jawa. Dan harus menghargai budayamu sendiri sebagai anak muda.

HEHE-HEHE-HEHE.

Kalau dipanggil orang tua, si anak harus menjawab ‘Dalem” atau “Kula” ini juga berlaku ketika dipanggil oleh orang yang terhormat.  Saking terbiasanya, kebiasaan ini sering  terbawa ketika berinteraksi dengan teman-teman. Contoh:

SALAM JOWO YANG GAK NDESO!

Kebanyakan orang tua Jawa ingin anaknya mendapat pasangan yang datang dari suku yang sama. Alasannya sederhana. Mereka pengen kamu punya pasangan yang satu suku agar mudiknya gak kesusahan dan lebih bisa kompromi dengan adat istiadat yang udah terbentuk.

Kalau ada adat yang membuat kamu gak sreg, lebih baik kamu kompromikan dengan orangtuamu agar tidak terjadi percecokan dengan anggota keluarga yang lain.

“Dari Jawa ya Mbak?”

PLEASE, jangan ingatkan juga kalau besok setelah berkeluarga kamu harus minta maaf mewakili keluargamu sendiri pakai Bahasa Jawa. Bayanginnya aja kamu gak sanggup.

Kamu: *cuma tahu Bahasa Jawa ngoko, bingung jawabnya* *akhirnya cuma jawab dengan senyuman*

Bahasa kromo atau bahasa halus digunakan ketika kamu berbicara dengan orang yang lebih tua. Dan dalam bahasa Jawa terdapat 2 tingkatan yaitu ngoko dan kromo dan di bahasa ngoko masih ada 2 tingkatan yaitu ngoko alus dan ngoko basa. Di bahasa krama juga terdapat 2 tingkatan yaitu kromo madya dan kromo alus.

Kayak kata Jokowi:

Mari kita dengar cerita Rahma yang berasal dari Jogja. Saat dia belanja dan harus menawar di Pasar Gede Bage, tiba-tiba penjualnya bertanya:

Orang Jawa terbiasa makan-makanan yang cenderung manis dan kalaupun pedas, pedasnya pun juga gak seberapa.  Kamu pun jadi kesusahan kalau harus tinggal ke daerah yang kuliner khasnya adalah makanan-makanan yang pedas.

Dalam hatimu: BANDUNG UDAH PINDAH PULAU YA? BUKAN JAWA LAGI?

Rasanya pengen bilang ke mereka: “LAU PIKIR SINI GAK KESUSAHAN CARI ART?”

Panggilan untuk sepupu atau saudara jauh bukan ditentukan oleh umur, tapi ditentukan oleh posisi orang tua mereka dalam keluarga.

Gara-gara penggambaran yang seperti ini, Orang Jawa sering banget dapet stereotype orang ndeso, dan gak jarang begitu kamu pindah ke kota metropolitan seperti Jakarta dengan logat kamu masih kental kamu langsung diejek sama teman-teman kamu. Padahal, yang jadi Presiden aja seringnya orang Jawa.

Kemudian kamu akan mengucapkannya dengan kagok dan terpatah-patah

TERUS AKU KUDU PIYE??